Sari Kelapa yang Terpisah, Galendo


Saat itu sebetulnya tanpa sengaja saya berencana melihat proses pembuatan Galendo di Ciamis. Disamping untuk menengok teman semasa SMA di Rumah sakit dan menengok adik yang sedang pesantren di Kota galendo itu, jadi karena ada tuntutan diri sendiri dan tugas kuliah saya bulatkan tekad untuk mampir ke pengrajin galendo. Setelah dari rumah sakit dan bertanya ke teman-teman, maka didapatlah sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana, tanpa ada plang apa-apa di daerah Baregbeg Ciamis arah Banjar. Dengan kurang begitu yakin saya menyapa pemilik rumah dan meminta izin untuk melihat bagaimana proses pembuatan galendo.

Awalnya saya agak bingung sebab bu Diah (salah satu pembuat galendo) selalu bilang bahwa ia juga membuat minyak kletik (kelapa) padahal yang aku ingin tahu adalah proses pembuatan galendo. Tetapi ternyata saya baru paham bahwa pembuatan galendo itu berbarengan dengan pembuatan minyak kelapa. Hehehe, dalam hati saya tertawa sendiri sekaligus malu karena ternyata saya yang salah paham.

Tentang pembuatan galendo / minyak kletik ini sebetulnya cukup sederhana, yang dibutuhkan hanya kelapa sebagai bahan baku. Pertama, kelapa dikupas, lalu di parut. Kemudian hasil parutan diambil santannya sampai kelapa benar-benar bersih. Kemudian santan hasil perasan kelapa tadi digodok/direbus sampai terpisah antara minyak dan galendo.

Penggodokan ini bisa sampai berjam-jam, untuk memisahkan antara minyak dan galendo Nah, barulah setelah mulai terlihat minyak dan galendo terpisah (minyak berada di atas, sedangkan galendo mengendap dibawah) wajan atau penggorengan bisa diangkat. Lalu disaring dan dipisahkan antara galendo dan minyak. 

Setelah dipisahkan, galendo harus dikeringkan terlebih dahulu kalo kata bu Diah “dituuskeun” supaya benar-benar hilang minyaknya. Lalu selanjutnya galendo yang telah kering dicetak dan dipres supaya minyaknya benar-benar hilang. Tujuan penghilangan minyak ini ada dua : Pertama, agar tidak terlalu basah sehingga bisa tahan lama. Kedua, supaya manisnya terasa. 

Proses pembuatan galendo telah selesai selanjutnya terserah anda, ingin diberi perasa atau tidak. Seperti yang banyak beredar sekarang galendo telah banyak dimodifikasi, dari mulai bentuk hingga rasa, ada rasa coklat, durian, dll.

Oh iya bu Diah ini masih belum punya brand sendiri, jadi beliau hanya memasok ke orang lain yang punya outlet-outlet seperti itu, untuk proses packing, serta penjualan, bu Diah hanya menjual yang datang ke rumahnya. Harganya juga lebih murah sekitar Rp. 10.000 rupiah/kilo.

Akhirnya penjumpaan saya dengan bu Diah hanya sampai sini, selepas ashar saya baru menengok adik ke pesantren Nurul Amal Cijeungjing. Oh iya dikarenakan hp yang sudah mati semenjak siang jadi saya tidak mendapatkan foto bareng dengan pembuatnya. Hmm agak menyesal sih, karena namanya juga mendadak. hehe

Komentar

Postingan Populer