Ali Syariati
Ketika
orang berbicara mengenai Revolusi Islam di Iran, banyak yang menyebut tokoh tua
atau tokoh yang hanya berasal dari golongan tua. Yaitu, Imam Khomeini yang
usianya telah menginjak 80 tahunan. Tetapi ada seseorang anak muda yang turut
terlibat dalam Revolusi di Iran. Ia adalah Ali Syariati. Seorang sarjana yang
meraih gelar doktornya yang pertama di bidang Sosiologi dan gelar Doktor
keduanya di bidang Filsafat.
Melihat
gagasannya mengenai Filsafat, Ali berbicara mengenai Nabi-nabi yang ada di muka
bumi ini. Menurutnya ada dua macam nabi yaitu, Nabi Ibrahimiyah dan
Non-Ibrahimiyah. Nabi Ibrahimiyah seperti kita tahu di dalam Islam khususnya
seperti misalnya nabi Musa, Isa, dan Muhammad Saw, sedangkan nabi
Non-Ibrahimiyah ia menyebut seperti Siddhartha, Konfusius, dan lain-lain.
Siddhartha menyebarkan agama Buddha dan Konfusius menyebarkan agama Konguchu.
Ada
perbedaan diantara nabi Ibrahimiyah dan Non-Ibrahimiyah. Nabi Ibrahimiyah
menurutnya berasal dari kalangan bawah sedangkan nabi Non-Ibrahimiyah berasal
dari istana yang akhirnya melawan istana.
Penyebaran
agama menurut Ali adalah perlawanan kalangan tertindas melawan para penindas,
dalam bahasanya Ali menyebut Kaum Mustad’afiin
melawan Kaum Mustakbiriin. Maka
tak heran apabila Ali banyak dipengaruhi oleh filsafat Sarte dan Karl Marx.
Yang
seperti kita tahu Karl Marx, menyerukan kaum Proletar melawan kaum Borjuis.
Nabi Musa ketika pada masa kecilnya dibuang ibunya ke sungai lalu ditemukan dan
dirawat oleh istri Fir’aun tetapi akhirnya melawan Fir’aun karena berlaku
dzalim. Bugitu juga halnya Nabi Muhammad Saw yang melawan para penindas,
memerdekakan budak-budak, menaikkan derajat dan harakat perempuan. Karena itu
Ali Syariati sangat mengidolakan dua orang yang fenomenal, Salman al-Farisi dan
Abu Dzar al-Ghifari. Abu Dzar dikenal sebagai Sosialis muslim pertama yang
membela hak-hak orang-orang yang tertindas.
Sumber
: Jalaluddin Rahmat, Video Redaksi Democracy Project tentang Ali Syariati.
Komentar
Posting Komentar