Makalah Studi Kritis dalam Karya C.C. Berg (Historiografi)
M. Arif Ichwani
1145010082
SKI 5C
============================================================================
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Penulisan sejarah tradisional adalah penulisan
sejarah yang dimulai dari zaman Hindu sampai masuk dan berkembangnya Islam di
Indonesia. Penulisan sejarah pada zaman ini berpusat pada masalah-masalah
pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa, bersifat istanasentris, yang
mengutamakan keinginan dan kepentingan raja. Penulisan sejarah di zaman
Hindu-Buddha pada umumnya ditulis diprasastikan dengan tujuan agar generasi
penerus dapat mengetahui peristiwa di zaman kerajaan pada masa dulu, di mana
seorang raja memerintah.
Dalam historiografi tradisional terjalinlah dengan erat
unsur-unsur sastra, sebagai karya imajinatif dan mitologi, sebagai pandangan
hidup yang dikisahkan sebagai uraian peristiwa pada masa lampau, seperti
tercermin dalam babad atau hikayat. Contoh-contoh historiografi tradisional di
antaranya ialah sejarah Melayu, hikayat raja-raja Pasai, hikayat Aceh, Babad
Tanah Jawi, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Kartasura, dan masih banyak
lagi.
Adapun ciri-ciri dari historiografi tradisional
adalah sebagai berikut.
1.
Religio
sentris, artinya segala sesuatu dipusatkan pada raja atau keluarga raja
(keluarga istana), maka sering juga disebut istana sentris atau keluarga
sentris atau dinasti sentris.
2.
Bersifat
feodalistis-aristokratis, artinya yang dibicarakan hanyalah kehidupan kaum
bangsawan feodal, tidak ada sifat kerakyatannya. Historiografi tersebut tidak
memuat riwayat kehidupan rakyat, tidak membicarakan segi-segi sosial dan
ekonomi dari kehidupan rakyat.
3.
Religio
magis, artinya dihubungkan dengan kepercayaan dan hal-hal yang gaib.
4.
Tidak
begitu membedakan hal-hal yang khayal dan yang nyata.
5.
Tujuan
penulisan sejarah tradisional untuk menghormati dan meninggikan kedudukan raja,
dan nama raja, serta wibawa raja supaya raja tetap dihormati, tetap dipatuhi,
tetap dijunjung tinggi. Oleh karena itu, banyak mitos bahwa raja sangat sakti,
raja sebagai penjelmaan/titisan dewa, apa yang dikatakan raja serba benar
sehingga ada ungkapan "sadba pandita ratu datan kena wowawali" (apa
yang diucapkan raja tidak boleh berubah, sebab raja segalanya). Dalam konsep
kepercayaan Hindu, raja adalah "mandataris dewa" sehingga segala
ucapan dan tindakannya adalah benar.
6.
Bersifat
regio-sentris (kedaerahan), maka historiografi tradisional banyak dipengaruhi
daerah, misalnya oleh cerita-cerita gaib atau cerita-cerita dewa di daerah
tersebut.
7.
Raja
atau pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan kharisma (bertuah, sakti).
Dari beberapa
penjelasan diatas ada seorang sarjana barat yang menulis tentang historiografi
tradisional khususnya tentang Historiografi di Jawa Indonesia. Ia adalan
Cornelis Christiaan Berg.[1]
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
Biografi C.C. Berg?
2.
Apa
saja Karya C.C. Berg?
3.
Apa
contoh kasus Studi Kritis C.C. Berg?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui
Biografi C. C. Berg.
2.
Mengeahui
Karya C. C. Berg.
3.
Mengetahui
Studi Kritis C. C. Berg.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biografi
C. C. Berg
Cornelis
Christian Berg lahir pada 18 Desember 1900 di Rotterdam Belanda dan meninggal
pada 25 Juni 1990 di Leiden.[2]
Ayahnya bernama sama dengannya yang lahir pada 16 Agustus di Rotterdam. Berg
mulai belajar di Universitas Leiden pada tahun 1919, ia mempelajari bahasa
oriental terutama bahasa arab dan sansakerta. Pada tanggal 8 Juli 1927 ia
menerima gelar doktor dengan judul De
MiddelJavaansche Historische Traditie sebagai Doctor of Philosophy. Pada tahun yang sama ia pindah ke Indonesia,
di mana ia tinggal di Surakarta. Di sekolah menengah setempat, ia mengajar
bahasa Jawa dan mempelajari cara bahasa altjavanesische
dan sastra. Untuk tujuan ini, ia melakukan perjalanan pada tahun 1928, ke Bali
dan Filipina.
Pada
tanggal 23 Januari, 1929 ia diangkat sebagai profesor bahasa Javaische dan Linguistik Austronesia di
Universitas Leiden, yang tugas dengan pengenalan pidato Hoofdlijnen yang Javaansche
Litteratuurgeschiedenis (garis besar sastra Jawa) pada 20 Februari 1929
mengambil. Sejak saat itu ia mengintensifkan penelitian ilmiah dan telah
menerbitkan beberapa buku tentang budaya Jawa dan bahasa. Pada tahun 1938 ia
melakukan perjalanan ke Indonesia oleh penelitian ulang, yang menahannya Perang
Dunia II bukan direncanakan dua tahun delapan tahun. Pada tahun 1946 ia kembali
ke Belanda dan bekerja lebih dari pada kursinya di Universitas Leiden. Pada
tahun 1947, ketika pindah ke anggota dari Royal
Netherlands Academy of Sciences.
Pada
Academy tahun 1948-1949 ia terpilih
rektor Almamater, yang pada 8 Februari 1949, Pada tanggal 23 April 1951, ia
mengambil alih profesor khusus sejarah dan perkembangan bahasa Melayu di
Universitas Amsterdam, dengan pidato Masalah eksperimen bahasa Melayu mengambil
alih dan di samping nya Leiden guru hingga tahun 1967 tahu. Pada tahun 1955 ia
mulai serangkaian publikasi untuk kerajaan terakhir di pulau Jawa: Mataram.
Pada tahun 1962 dan 1969, ia menerbitkan dua buku tentang Buddhisme Jawa.
Setelah ia pensiun dari jabatan profesor pada 20 September 1971. Dia meninggal
pada tanggal 25 Juni 1990 dengan keluarganya di Leiden.[3]
Sumber
: J.J. Ras, In Memoriam
Professor DR. Berg. (1991) http://www.kitlv-journals.nl (PDF Article)
B.
Karya-karya
C. C. Berg
1. Kidung Sunda Den Haag 1927
2. De Middeljavaansche historische
traditie Santpoort 1927
3. Kidung Sundayana. 1928
4. Kidung pamañcangah Santpoort 1929
5. Hoofdlijnen der Javaansche
litteratuurgeschiedenis. Groningen 1929
6. Rangga Lawe, Middeljavaansche
historische roman Weltevreden 1930
7. Prånåtjitrå, een Javaansche liefde
Santpoort 1930
8. Kidung Harsa-Wijaya. Den Haag 1931
9. Hindu literature in Java. 1932
10. Babad Bla-Batuh, de geschiedenis van
een tak der familie Jĕlantik Santpoort 1932
11. De Çiwa-hymne van de Arjunawiwaha.
Den Haag 1933
12. Critische beschouwing van Neerlands
cultureelen invloed en Neerlands cultureele taak in Oost-Indië Den Haag 1934
13. Bijdrage tot de kennis der
Javaansche werkwoordsvormen. Den Haag 1937
14. Opmerkingen over de chronologie van
de oudste geschiedenis van Maja-pahit en over Krtarajasajayawardhana's
regeering. Den Haag 1938
15. Indië's talenweelde en Indië's
taalproblemen Groningen 1939
16. Poëzie der herscheppende wetenschap.
Groningen 1949
17. De problematiek van het
Bahasa-Indonesia-experiment Groningen 1951
18. Herkomst, vorm en functie der
Middeljavaanse rijksdelingstheorie Amsterdam 1953
19. De evolutie der Javaanse
geschiedschrijving Amsterdam 1951
20. De Sadeng-oorlog en de mythe van
Groot-Majapahit Amsterdam 1951
21. Het rijk van de Vijfvoudige Buddha
Amsterdam 1962
22. Ilmu-ilmu kebudajaan di Indonesia
Jakarta 1972
23. Penulisan sejarah Jawa Jakarta 1974[4]
C.
Studi Kritis C. C. Berg
Historiografi tradisional bagi beberapa sejarawan sering
dianggap tidak kredibel. Hal tersebut terjadi salah satunya karena di dalam
historiografi tradisional begitu banyaknya mitos, dongeng yang tak masuk akal,
hingga cerita–cerita ajaib. Dengan beragamnya fiksi di dalamnya, sangat sulit
untuk menemukan dimanakah fakta sejarah yang sesungguhnya. Contoh dari
pandangan sejarawan seperti ini dapat dijumpai misalnya dalam tulisan C.C.Berg.
Penelitian Berg terhadap historiografi tradisional Jawa seperti Babad Tanah
Jawi (BTJ), Kidung Sunda, dan lainnya menghasilkan suatu keraguan terhadap
sumber tersebut memuat fakta tentang masa lalu. Dalam satu kesimpulan, Berg
menjelaskan bahwa penulis historiografi tradisional, dalm hal ini BTJ, tidaklah
bermaksud untuk menggambarkan peristiwa masa lalu, melainkan sebuah bagian dari
penggunaan “sastra magis” atau kekuatan magis di bidang sastra. Dari asumsi
itu, penggunaan historiografi tradisional menjadi tidak mungkin dan kajian
sejarah terhadapnya jelas menghadapi jalan buntu.[5]
Namun benarkah demikian? Artikel yang ditulis oleh Anthony H.Johns mencoba
menawarkan sebuah alternatif terhadap kajian historiografi tradisional Jawa.
Pada awal artikelnya, Johns menjelaskan tentang kesulitan
bagi sejarawan atau mereka yang akan mengkaji masa lalu berdasarkan tulisan
atau historiografi tradisional Jawa dan Melayu. Kesulitan dalam mencari fakta
masa lalu itu ada dalam hampir di seluruh bagian tulisan khususnya pada bagian
pengantar. Johns memberikan contoh dari historiografi tradisional Melayu dimana
menceritakan tentang kronik dari dinasti penguasa kerajaan Malaka. Gambaran
genealogis nenek moyang para raja dimulai dari raja Alexander yang Agung dari
Makedonia yang meluaskan wilayahnya hingga ke India. Kemudian dilanjutkan
dengan anak keturunannya yang melakukan perkawinan dengan putra–putri para
penguasa lokal di kawasan Melayu dan Sumatera. Perkawinan antar keturunan para
penguasa itu membuat jaringan kekeluargaan yang kompleks hingga mengaitkannya
dengan para hegemon besar seperti Majapahit bahkan Cina. Bagian pengantar atau
pendahuluan seperti inilah yang umumnya muncul baik itu dalam historiografi tradisional
Melayu dan Jawa.
Johns mengetengahkan Pararaton dan BTJ sebagai contoh dari
historiografi tradisional Jawa yang dibahas lebih lanjut. Seperti di awal telah
dikemukakan, bahwa beberapa sarjana khususnya sarjana Eropa menganggap bahwa
bagian awal atau pengantar dalam Pararaton dan BTJ sebagai cerita dongeng yang
tidak berharga. Dari sini memunculkan pertanyaan–pertanyaan lanjutan seperti
tidak adakah petunjuk bagi kita menemukan beberapa fakta yang sering kali kita
abaikan begitu saja? Apakah dari historiografi tersebut kita bisa mendapatkan
pemahaman tentang sifat dan fungsi dari otoritas dimana karya tersebut ditulis?
Dan pertanyaan lainnya. Secara eksplisit, Johns menyebutkan bahwa artikel yang
ditulisnya merupakan sebuah usaha untuk melihat faktor–faktor kultural dimana
dapat menjelaskan dan menginformasikan struktur yang ada melalui pengkajian
yang lebih rinci dari Pararaton dan BTJ.
Penjelasan Johns tentang Pararaton menitik beratkan pada
riwayat dari Ken Angrok sebagai pendiri dari Dinasti Rajasa penguasa Singasari
dan Majapahit. Karena penekanan pada pendahuluan dari Pararaton, periode
temporal yang menjadi perhatian Johns adalah masa sebelum tahun 1222 dimana Ken
Angrok naik tahta sebagai raja Singasari. Johns juga sepakat seperti para
sejarawan lainnya bahwa kisah perjalanan Ken Angrok mulai sebelum lahir hingga
naik tahtanya, tidak dapat diterima sebagai fakta sejarah. Kisah Ken Angrok
yang merupakan reinkarnasi dari Wisnu, lahirnya dari Brahma, besar sebagai
penjahat, diangkat anak oleh beragam kalangan sampai pengakuan atas dirinya
sebagai titisan Batara Guru bahkan juga Budha memang lebih mirip dengan
dongeng. Tetapi ketika pengangkatan Ken Angrok sebagai raja merupakan fakta
sejarah. Peristiwa itu juga dapat dibuktikan melalui sumber–sumber lain seperti
beberapa prasasti(misal Prasasti Mula Malurung,penulis) dan sumber–sumber dari
Cina. Mengapa penulis dari Pararaton bisa dengan mudah menulis antara yang
fakta dengan fiksi secara bersamaan? Menurut Johns, hal itu bisa dilakukan
karena di dalam benak si penulis tidak sanggup untuk memisahkan antara fakta
dan fiksi. Narasi tentang masa muda Ken Angrok sebelum menjadi raja memang tidak
memberikan sumber bagi penulisan sejarah di periode itu, akan tetapi paling
tidak dari penceritaan Pararaton sangat mungkin menggambarkan tentang sebuah
interpretasi yang sahih tentang pemahaman Jawa akan fungsi dan sifat dari
martabat seorang raja.
Terdapat dua hal utama yang harus dimiliki raja seperti yang
ditulis dalam Pararaton yakni fungsi raja sebagai kesatuan antara makrokosmos
dengan mikrokosmos dan memiliki sifat kedewataan di dalam dirinya. Kedua hal
utama inilah yang dimiliki oleh Ken Angrok sehingga layak menjadi seorang raja.
Jadi, bagian pengantar dari Pararaton tidak lagi hanya sekedar cerita dongeng.
Bagian itu memuat tentang teori–teori Jawa tentang kepemimipinan khususnya
tentang martabat seorang raja bahkan juga merupakan dokumentasi yang paling
jelas tentang peranan raja dalam konsepsi Jawa. Bagaimana dengan BTJ? Johns
menyatakan bahwa bagian pengantar dari BTJ lebih kompleks daripada Pararaton.
Bagian pembukaan BTJ memiliki kesamaan dengan Sejarah Melayu yaitu berisi
tentang genealogis nenek moyang raja khususnya para penguasa kerajaan Mataram
yaitu Panembahan Senapati (PS) dan Sultan Agung. Genealogis yang ditulis dalam
BTJ bersifat sinkretis karena di satu sisi memadukan antara dewa–dewa Hindu
yang kemudian melalui perkawinan keturunannya terhubung dengan nabi–nabi Muslim
seperti Adam sampai bermuara kepada raja–raja Mataram.
Dalam BTJ menurut Johns, terdapat banyak unsur–unsur
sinkretik dengan beragam budaya khususnya budaya lokal Jawa yang diindikasikan
telah ada sejak masa sebelum masuknya Hindu Budha. Kebangkitan budaya ini sudah
terlihat sejak masa Majapahit dan menguat pada saat masuknya Islam. Contohnya
dalam penulisan Babad yang meninggalkan pola metrum Sanskrit (contoh Kakawin,
penulis). Bahkan genealogis dan kisah perjalanan PS hingga menjadi raja
kerajaan Mataram diliputi sinkretisme semacam itu. Hal itu misalnya tampak dari
kepercayaan rakyat terhadap kekuatan supranatural seperti Nyi Loro Kidul,
adanya wahyu yang berpindah, sampai pengaitan garis keturunan sebagai pewaris dari
Majapahit. Dari perbandingan terhadap Pararaton dan BTJ itu, Johns mengambil
kesimpulan bahwa terdapat beberapa perubahan dan keberlanjutan dari masyarakat
Jawa. Kedua sumber itu juga menggambarkan cara kerja dari para pujangga Jawa
yang eklektis dalam penyusunan karyanya. Selain itu, terdapat kesamaan gagasan
tentang konsep dewa–raja dan fungsi makro dan mikrokosmisnya. Perbedaan
utamanya adalah pada perjalanan dan cara–cara tokoh utama(Pararaton:Ken Angrok;
BTJ:PS) hingga mencapai martabat seorang raja sesuai dengan konsepsi Jawa pada
masanya masing–masing. Selain itu, juga peran dari mitos dan simbol lebih
menonjol di BTJ dibandingkan Pararaton. Dari titik inilah kemudian Johns secara
implisit menyatakan bahwa ada alternatif perspektif baru dalam mengkaji
historiografi tradisional Jawa. Tetapi pada akhir artikelnya terdapat
pertanyaan apakah kajian ini akan kembali menemui jalan buntu karena melihat
semakin banyaknya mitos yang dipakai pada perkembangan historiografi
tradisional Jawa seperti BTJ dibanding sebelumnya.
Mengingat keterbatasan ruang, sedikit yang bisa kami
tambahkan yakni sedikit kritik khususnya tentang penggunaan diksi tertentu oleh
Johns yang cenderung melihat perubahan dalam masyarakat Jawa mengalami
kemunduran. Contohnya menyatakan bahwa budaya lokal lebih rendah dibandingkan
budaya Hindu Budha. Terlepas itu semua artikel Johns ini membuka kemungkinan
penggunaan historiografi tradisional sebagai sumber sejarah yang melimpah.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Cornelis Christian Berg Indologi
asal Belanda dan dianggap sebagai peneliti penting Indonesia Khususnya mengenai
Jawa.
2. Karya-karyanya banyak tetapi sangat
sedikit yang telah beralih bahasa sehingga sulit dijangkau oleh kalangan luar
Belanda. Dari karya-karyanya menunjukkan penelitiannya banyak di bidang
Sejarah, Tradisi, dan Bahasa.
3. Dari studi Kritis di atas Berg
mengungkapkan bahwa penggunaan historiografi tradisional dalam hal ini Babad
tanah Jawa menjadi tidak mungkin dan kajian sejarah terhadapnya jelas
menghadapi jalan buntu.
DAFTAR PUSTAKA
Berg, C.C,
“Kidung Sunda Inleiding, Tekst, Vertaling en Aanteekeningen” dalam BKI
83, 1927
– – – –, Penulisan
Sejarah Jawa. Jakarta: Bhratara, 1985
Margana
S., Pujangga Jawa Dan Bayang–Bayang Kolonial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2004
Adrian
Perkasa,
http://clio1673.blogspot.co.id/2013/01/kajian-terhadap-historiografi.html
https://de.wikipedia.org/wiki/Cornelis_Christiaan_Berg_%28Philologe%29
http://pelitaku.sabda.org/node/834
J.J. Ras, In Memoriam Professor DR. Berg. (1991) http://www.kitlv-journals.nl
(PDF)
Iryana, Wahyu, "Historiografi Barat", Bandung: Penerbit Humaniora, 2014
Iryana, Wahyu, "Historiografi Barat", Bandung: Penerbit Humaniora, 2014
[1] http://pelitaku.sabda.org/node/834
[2] J.J. Ras, In Memoriam
Professor DR. Berg. (1991) http://www.kitlv-journals.nl (PDF)
[3] https://de.wikipedia.org/wiki/Cornelis_Christiaan_Berg_%28Philologe%29
(diterjemahkan melalui Google Translate)
[4] https://de.wikipedia.org/wiki/Cornelis_Christiaan_Berg_%28Philologe%29
[5] C.C. Berg, Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Bhratara, 1985
[6] Adrian Perkasa, http://clio1673.blogspot.co.id/2013/01/kajian-terhadap-historiografi.html
Komentar
Posting Komentar