Kaderisasi dan Senioritas
Mula-mula judul di atas perlu kiranya saya beri pengertian secara ringan. yang pertama, adalah dalam beberapa sumber yangsaya dapat, kaderisasi berarti proses pengkaderan seseorang oleh orang sebelumnya untuk memegang peranan tertentu. Dalam hal ini mungkin bisa berarti penerus. Sedangkan senioritas tidak lepas pula kaitannya dengan kaderisasi. yang pasti ini merupakan hubungan antara senior dan junior dalam sebuah wadah baik organisasi maupun sebuah perkumpulan.
Hal ini menjadi sangat kontras jika kita melihat langsung di dalam ruang lingkup universitas atau perguruan tinggi, meski jaman sudah berubah tetapi nilai-nilai dari dua istilah di atas masihlah kontras terlebih dalam organisasi-organisasi yang kental dengan perpolitikan kampusnya yang salah kaprah (sebab politik kampus justru kebalikan dari politik praktis partai). Dua istilah di atas adalah kata yang mujarab bahkan menjadi tolak ukur seseorang dalam menjalankan masa-masanya selama kuliah. Tak heran, betapa sulitnya negeri ini berkembang dengan pesatnya, karena pemikirannya banyak diracuni oleh penyakit-penyakit senioranya yang terdahulu.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan opini saya terhadap dua istilah di atas yang menurut saya perlu adanya desakralisasi terhadap konsep yang berlaku atas dua hal di atas. Pertama saya meyakini bahwa konsep kaderisasi milik organisasi dan kelompok mana pun pasti disusun dengan itikad yang baik, karena pada dasarnya kaderisasi tercipta atas kesadaran orang-orang terdahulu atas waktu yang dimilikinya sebagai manusia yang hidup dan mati. artinya adalah dalam menjalankan sebuah proses pendidikan organisasi ataupun kelompok maupun pendidikan secara akademis dan non-akademis seseorang tidak bisa memegang sebuah jabatan atau apapun selama-lamanya. Karena sebagai manusia ia akan mati ketika waktu hidup di dunia telah habis.
Yang menjadi ironi adalah (mudah-mudahan tidak pernah terjadi) ketika benar bahwa kegelisahan saya di atas yang telah disampaikan adalah benar adanya. Apa yang kita lakukan bukanlah merupakan gagasan dan pemikiran murni dari kita sebagai manusia yang hidup di masa sekarang. Tulisan ini boleh anda anggap rancu karena seolah-olah menghilangkan peran sejarah, dengan kata lain bahwa sejarah tak berperan dalam menciptakan kehidupan sekarang. tetapi yang harus digaris bawahi adalah, dimana letak kekuatan kita sebagai manusia yang punya inovasi dan kreasi dalam menciptakan suatu kebudayaan. Saya merasa sejauh ini semuanya selalu dikaitkan dengan tradisi yang kita pun tak mengetahui asal-usulnya secara empiris.
Sekali lagi bukannya ingin menghilangkan sejarah tetapi hanya ingin memastikan apakah kita telah sepenuhnya bebas dari intervensi-intervensi senior dan konsep-konsep yang telah ada secara moral yang tetanam dalam diri kita secara tak masuk akal. Menjadi manusia mestinya memahami dan menyadari betul apa yang mestinya kita jalani, dengan penuh kematangan pikiran. bukan hanya mengandalkan keyakinan. Keyakinan merupakan power yang sangat besar nilainya, saya akui itu. tetapi tanpa pengawasan pikiran dan fakta-fakta yang empiris kita hanyalah sebuah arwah yang berjalan tanpa kehendak. apalah gunanya akal dan jasad.
Yang paling menyakitkan bilamana dari senioritas dan kaderisasi ini terjalin emosional romantisme. Ironis, karena yang saya sadari bahwa dua istilah ini merupakan senjata utama keadilan dan ke-idealan ditegakkan. bilamana romantisme sudah muncul maka hancurlah konsep yang ideal dimakan keyakinan yang utopis.
Tulisan ini merupakan bentuk protes akal saya yang bekerja sangat keras di tengah keyakinan yang terus menerus luntur ditelan harapan yang tak terwujud. tetapi hal ini saya anggap sebagai proses yang berharga sebab nanti akan muncul sebuah pengharapan yang tiada batasannya di tengah kelesuan akal yang selalu berpikir keras tanpa menemukan kenyataanya.
Terakhir saya mengkritik seluruh mahasiswa yang selalu berbicara tentang kaderisasi sebagai prestasi, karena kaderisasi adalah proses kehidupan alami dalam menjaga keseimbangan alam (dalam hal ini pemberdayaan manusia) agar khalifah tetap menjadi khalifah yang seutuhnya dimana dan kapan ia hidup. Tumbuhlah tunas bangsa berpikirlah apa yang pantas kau ciptakan di waktu kau hidup, sebab dunia tak lagi muda.
Komentar
Posting Komentar