Mata Kuliah Jalan-Jalan
Sore itu setelah selesai kuliah saya
bergegas untuk pulang ke kosan untuk mandi dan bersiap-siap, karena kami
seluruh mahasiswa jurusan SKI akan berangkat ke Rancakalong untuk menyaksikan
perayaan Mubur Suro. Sesuatu yang
sering saya dengar, tetapi jujur saja saya belum pernah menyaksikan
pembuatannya secara langsung bahkan mencicipinya. Sehingga dengan rasa
penasaran, saya agak bersemangat untuk berangkat.
Pukul 17.00 kami sekelas kumpul di
kampus agar nantinya berangkat berbarengan. Lalu dengan khas anak-anak kelas
yang banyak hereuy akhirnya kami
berangkat sebelum Maghrib dari kampus dan sholat maghrib di pom bensin Jalan
Percobaan Cinunuk, sambil barangkali ada yang ingin mengisi bensinnya agar tak
perlu mengisi lagi nantinya. Akhirnya sekitar pukul 19.00 kami berangkat ke
Sumedang.
Perjalanan diawali dengan melewati
Cileunyi kemudian Jatinangor lalu Tanjung Sari, dari Tanjung Sari itu kami belok
kiri dan mulai masuk daerah Ciptasari (pami
teu leupat, da mung saliwat hehe). Baru sekitar dua menit kami jalan, Fajar
yang berada di belakang memberhentikan kami dan memberitahu bahwa ada yang
ketinggalan. Ya ! ternyata si AA Taufik sama A Opik, dua orang yang berbeda
dengan nama yang hampir mirip mereka berada di motor yang sama. Dia tidak belok
tapi malah nyiap beus. Akhirnya
belokan terlewat dan mereka harus putar arah lagi. Selang beberapa menit
akhirnya mereka berhasil “dievakuasi” oleh Ilham. Kami istirahat sebentar, lalu
melanjutkan perjalanan menuju Rancakalong.
Lima belas menit setelahnya saya melihat
ada banyak jembatan-jembatan baru. Saya menduga bahwa di daerah sini sedang ada
pembangunan, tetapi karena gelap saya tidak bisa melihat apa yang berada di
bawah jembatan itu. Singkat cerita, kami sampai di rancakalong, saya mendengar
dengan samar-samar ada suara nada pentatonis yang sering saya dengar di sanggar
teater. Tetapi saya tidak melihat adanya raramean
didaerah itu. Akhirnya salah satu dari kami bertanya mengenai dimana titik
pusat kegiatan Mubur Suro itu.
Kemudian setelah ditunjukkan kami akhirnya sampai ke tempat yang dituju.
Jujur saja, saya terkesan ketika tiba di
Rancakalong. Bahkan sebelum tiba di tempat perayaan Mubur Suro saya bisa merasakan udara yang segar. Walaupun tidak
terlihat dengan jelas karena gelapnya malam, saya bisa merasakan dan menduga
bahwa Rancakalong adalah tempat yang indah. Ternyata benar saja keesokan
harinya saya melihat pemandangan yang memanjakan mata. Apalagi bagi orang yang
tinggal di kerumunan Kota Bandung.
Setelah memarkir motor, kami langsung
menuju rumah singgah yang disediakan dosen kami untuk beristirahat dan
kebetulan, ketika kami datang acara belum sutuhnya dimulai, baru bubuka ucap seseorang di rumah adat.
Selang lima menit kemudian barulah kami
diimbau untuk menuju rumah adat. Rangkaian acara dimulai dengan pengantar yang
disampaikan oleh pembawa acara lalu disusul dengan sambutan-sambutan yang
mewakili masyarakat adat, jajaran pemerintah desa, serta dari UIN yakni Prof.
Sulasman.
Meningkat
ke acara selanjutnya yakni pembacaan jampi-jampi dan tawasul (mungkin ini yang
menjadi unsur keislaman dari acara mubur suro) sambil membakar kemenyan.
Setelah itu barulah alat musik Tarawangsa dan Jentreng di ambil oleh pemuka
adat lalu digosok dan diasapi diatas bakaran kemenyan.
Setelah ritual tersebut barulah
Tarawangsa dimainkan, sementara bapak-bapak penari tadi mengambil nampan yang
berisi keris dan sesajen serta kembang-kembang. Sambil diiringi musik bapak
tadi melakukan aksi ritual penyembahan. Setelah selesai lalu disambung dengan
memperagakan seperti gerak silat dan tari. Tak lama setelah itu terlihat telah
bersiap-siap ibu-ibu yang membawa nampan, mereka juga seperti melakukan ritual
penyembahan. Setelah hampir lima belas menit barulah acara ngigel berlangsung.
Berdasarkan wawancara dengan abah penjaga warung kopi, bahwa jadwal
ngigel di Rancakalong itu beragam. Beliau mengatakan memang di Cijere acara ngigel dilakukan terlebih dahulu oleh
perempuan baru setelah jam 00.00 giliran laki-laki diperbolehkan untuk Ngigel. Berbeda dengan di Dusun Pasir,
beliau mengatakan bahwa giliran perempuan itu setelah pukul 00.00 keatas,
sedangkan sebelum pukul 00.00 itu giliran laki-laki. Tetapi saat ditanya kenapa
bisa berbeda beliau tidak bisa menjelaskan secara pasti, hanya mungkin penyesuaian
keadaan saja.
Keesokan harinya setelah sedikit beristirahat di
rumah singgah. Saya menuju rumah adat melihat apa yang akan dilaksanakan
sebelum pembuatan bubur suro. Seperti biasa ritual selalu ada untuk menghormati
serta menunjukkan rasa syukur kepada sang pemberi rizki. Sambil diiringi alunan
surupan tarawangsa sembilan orang
masing-masing membawa penggorengan/katel
besar. Mereka berbaris lalu keluar ke halaman rumah adat. Kemudian bahan-bahan
pun mulai diolah, ada yang dipotong kecil-kecil ada juga yang di parut.
Kemudian seluruh bahan-bahan dicampur lalu diaduk
menjadi bubur. Menurut seorang warga yang bertugas di bagian tungku sebetulnya yang inti adalah katel
yang sembilan tadi, karena terdapat makna simbolis dari angka sembilan salah
satunya adalah lambang wali songo, penyebar islam di pulau jawa.
Komentar
Posting Komentar