PEOPLE CHANGE, BIPOLAR, SAKIT JIWA


Saya mengalami beberapa perubahan dalah hidup. Seperti setiap dialog yang terasa “serrr” di film-film Hollywood “....people change” frase ini saya temukan di berbagai film. Alih-alih biasa saja tapi kata ini membuat saya berfikir bahwa sang penulis skenario pasti mempunyai pemahaman yang dalam akan setiap jejak kehidupan. Sunatullah kata orang-orang UIN. Bagaimana tidak, saya merasakan itu harus terjadi. Setidaknya saya selalu melihat ulang bagaimana perjalanan saya dari semenjak SD sampai sekarang, ketika pikiran saya tiba-tiba terbuka. Mulai memikirkan hal-hal yang tidak biasa hingga kemampuan saya untuk menganggap hal-hal kecil menjadi kecil dan menganggap hal-hal besar menjadi besar perlahan hilang.

Untuk memudahkan saya membaca kehidupan saya, maka sebagai anak sejarah saya membuat periodesasi yang membagi fase kehidupan saya kepada empat fase. Pertama, Sekolah Dasar atau SD. Kedua, SMP. Ketiga, SMA. Keempat, Perguruan tinggi. Hal yang paling mencolok dalam kehidupan saya adalah minat dan obsesi saya selalu terlampau besar untuk menjadi sesuatu berdasarka kegiatan yang saya ikuti, bukan berdasarkan sekolah yang saya jalani. Saya mulai berpikir bahwa sekolah tidak mempunyai nilai praktis yang cukup signifikan untuk menentukan hidup seseorang.

Contohnya adalah dimulai dari SMA. Saya aktif di organisasi kepramukaan dengan berbagai embel-embelnya, maka saya terobsesi menjadi seorang militer yang mempunyai penampilan yang elegan, kuat, disiplin, serta tangkas. Lalu ketika saya kuliah, dengan segala lingkungan yang baru bagi saya, saya terombang-ambing, kondisi mahasiswa yang senang berpolitik praktis membuat saya terbawa untuk itu.

Di sisi lain, saya memilih jalan sendiri untuk mengambangkan apa yang saya punya. Saya merasa mempunyai kemampuan musik serta ketertarikan kepada drama yang berpotensi untuk dikembangkan, lalu saya memilih UKM teater. Di sini saya merasa terobsesi lagi untuk menjadi seperti itu. Belum lagi output sarjana sejarah yang digiring untuk menjadi seorang peneliti dan penulis. Itu sudah pasti.

Sebetulnya, cukup melelahkan menjadi orang yang seperti itu, karena saya tak selalu mendapatkan apa yang saya mau. Juga dengan itu waktu dan pikiran saya menjadi terbagi. Belum lagi kecenderungan saya sebagai orang yang perfksionis. Saya beranggapan bahwa saya harus melakukan pekerjaan saya dengan sempurna, yang itu menjadi mustahil dengan obsesi saya yang segudang.

Akhirnya, saya hanya bisa berangan-angan, fungsi sosial pun terganggu, jomblo, dan memimpikan wanita cantik yang tak kunjung didapatkan. Depresi dan ingin bunuh diri adalah hal yang sempat terbayangkan.
Mungkin seharusnya saya mencari seorang psikiater atau mungkin psikolog. Entahlah saya tak terlalu paham perbedaan keduanya. Dan membantah perkataan seorang teman dengan : "Bagaimana kehidupan sosial tidak mempengaruhi seseorang sedangkan manusia hidup di dalamnya?"

Komentar

Postingan Populer