Impian Bertemu Sang Begawan
Tahun 2006, saya masih terngiang ketika saya ngobrol dengan almarhum kakek saya di sebuah becak yang mengantar kami pulang dari pasar. Beliau menanyakan impian saya ingin kuliah dimana. Spontan saya menjawab "MALANG". Entah berapa ribu entah alasan saya kenapa menjawab begitu. Tetapi, saya mendapat respon yang positif dari kakek saya. "hmm.. ngke masantrena di Kyai Hasyim Muzadi nya?" beliau menawarkan. kebetulan saat itu saya telah mengetahui siapa beliau. Beliau Merupakan Ketua Tanfidziyah NU. saai itu percakapan hanya berlangsung begitu saja, tetapi saya merasa bahagia. Tahun 2014, tahun ini saya mendapatkan sesuatu yang dulu tidak saya inginkan: kuliah di Bandung.
Dasar, "uyah mah moal tees kaluhur" darah hijau (kecintaan terhaadap NU) ini memang sudah mendarah daging, Oleh sebab turunan. Suatu hari saya mendapatkan sebuah film dokumenter tentang NU dan Sejarah Kebangsaan oleh IPNU Trenggalek. saya menontonnya berulang-ulang sampai sekarang karena selain saya sebagai simpatisan NU tetapi di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah Indonesia dan saya merupakan salah satu mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam UIN Bandung.
Dalam Film ini saya terkesima dengan seluruh Narasumbernya. Lalu saya melihat KH. Hasyim Muzadi. Di sini saya terbawa kembali kepada ingatan masa lalu (percaturan saya dengan almarhun kakek saya). Belakangan saya punya minat untuk bahan skripsi saya, tentang kebijakan Orde Baru terhadap Partai NU saat itu sebelum bergabung dengan PPP yang salah satunya saya ingin Sang Begawan menjadi Sumber Primernya (walaupun masih banyak yang lain). Tapi akhirnya kandas, Sang Begawan kini sudah dipanggil Oleh-Nya. Tetapi, akan terus hidup dihati saya. Semoga yai termasuk kepada golongan yang dihindarkan dari hisab nanti amin.
Bandung
16 Maret 2017
16 Maret 2017

Komentar
Posting Komentar