Catatan Sederhana 1

Menjelang penghabisan Tahun 2016, aku disibukkan dengan berbagai macam kegiatan. hari itu detik-detik terakhir perkuliahan semester ganjil di kampus, menjelang UAS. oh iya, mungkin aku harus memperkenalkan diri dulu biar yang baca tahu siapa sosok aku dalam tulisan ini. aku adalah seonggok daging yang bernama Arif. panjangnya AAAARRRRIIIIIIFFF. seorang mahasiswa tingkat III jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Nama Sekolahnya panjang Banget) kelahiran Cikarang - Bekasi 21 tahun silam. Belum punya penghasilan dan pacar dan solatnya masih 4 waktu.Agama Insya Allah Islam, punya leptop dan kamera dari orang tua, suka ngopi agak pait, ngerokok sampurna mild, dan sekarang ingin jadi penulis. oke fiks!

nah, jadi waktu itu di kampus sudah menjelang ujian akhir semester. awalnya aku tidak berniat untuk pulang ke Bekasi, tetapi entah kenapa hari itu aku pulang. di rumah terjadi perbincangan serius antara aku dan seluruh anggota keluarga. intinya, hari itu kami membahas tentang beberapa permasalahan yang aku tidak tahu (yang sebetulnya terjadi di yayasan bapakku. sekedar info bahwa keluarga kami memiliki yayasan pendidikan yang dimana aku adalah ketuanya, walaupun hanya bersifat formalitas, mungkin agar aku belajar dan punya kepedulian nantinya). masalah yang dibahas itu adalah bagaimana strategi agar kita mampu bersaing dengan 40 sekolah-sekolah islam yang ada di Cikarang Utara. BOOM ! (satu kecamatan yang hanya terdapat 3 titik fiber optic ada 40 sekolah swasta islam? edan !)

lalu aku berpikir dalam benakku, apakah betul ini demi pendidikan? nanti kita bahas. jadi, waktu itu kami sepakat untuk mengadakan suatu acara lomba anak TK dalam rangka Milad sekolah yayasan kami, yang nantinya diharapkan acara tersebut bisa menarik perhatian calon siswa untuk bersekolah di tempat kami. dengan cara apa? dengan lomba saja mana mungkin, apa yang bisa dibanggakan dengan memperlihatkan bangunan dan halaman sekolah kami. satu-satunya cara adlah dengan memperlihatkan isi dari apa yang kami bisa. maka dengan bersusah payah akhirnya aku menyanggupi satu cara yaitu dengan membuat film pendek yang pemainnya adalah anak sekolah itu. BOOM!

lalu aku pulang ke Bandung, untuk menyusun dan mempelajari tentang pembuatan film. tapi yang terjadi ternyata berbeda, dari situ aku menjadi orang yang super sibuk (dari kebiasaan lama) karena UAS tidak dilangsungkan di kelas seperti biasanya, tapi dengan diberi tugas oleh dosen untuk observasi ke mana-mana. BOOM! ini yang jadi anjir  kedua. kalau hanya satu mata kuliah sih tidak masalah, tapi masalahnya adalah, hampir semua mata kuliah begitu. hmm... kenapa ini menjadi BOOM? okey, disini saatnya anda mulai memahami saya.

Pertama, saya bukan orang yang suka belajar ketika mau UAS, tapi lebih kepada saya ingin belajar apa yang ingin saya pelajari. dari kedua anjir ini, kita lihat semuanya adalah pesanan yang pertama pesanan orang tua, yang kedua adalah pesanan dosen. (entah, dosen ini maunya apa, bingung. tapi sebagai kerbau dosen, mahasiswa tetap saja mau melakukannya) sehingga ini membuat saya sangat malas.

Kedua, dari kedua anjir ini sama-sama membutuhkan proses yang panjang. bagi saya yang cenderung perfeksionis saya lebih suka suatu hal yang sedikit tapi berkualitas. anjir yang pertama, ini memerlukan dari mulai pembuatan naskah, casting, syuting, dan editing. simpelnya seperti itu yang saya lakukan, nah, ini kan pasti memerlukan beberapa hari kalau hanya saya yang mengerjakan. (dan sampai sekarang film yang dimaksud belum jadi seutuhnya). kemudian anjir yang kedua, yang saya bayangkan adalah kita harus melakukan tahapan mulai dari Riset, Observasi, membuat laporan, dan Presentasi. FUCK ! kalau saja UAS tulis di ruang kuliah tak perlu menghabiskan, banyak waktu, biaya, dan pikiran.

lalu, apa yang terjadi? semua itu saya lewati satu per satu. Alhamdulillah ! TAPI, nah ini, semua tidak seperti yang saya harapkan. seluruh laporan tugas UAS saya fiktif. WOW ! korupsi? bisa jadi walaupun tidak seutuhnya seperti karya sastra. saya hanya mengandalkan riset tanpa observasi dan ini yang membuat saya sangat menyesal karena keadaan yang serba anjir. lalu bagaimana dengan film? dalam proses, TAPI, nah ini ada tapinya lagi. film yang dibuat tidak berdasarkan naskah yang saya buat, karena beberapa alasan tertentu. yang utama adalah waktu. saya hanya punya waktu satu bulan untuk film berdurasi 20 menit. tanpa pengalaman, tanpa kru, tanpa latihan, semuanya spontan seperti cegukan. waktu satu bulan itu belum diambil dengan kesibukan sampingan aku dan teman-teman yang terlibat dalam film ini. jadi total kita hanya punya waktu 18 jam untuk syuting 24 jam untuk editing. BOOM !

sebetulnya masih banyak faktor lain yang bisa jadi sebab kenapa ini bisa terjadi, tetapi cukup hanya saya yang tahu, lagipula tulisan ini hanya sekedar curhat agar bisa melatih kebiasaan menulis, agar bisa mengeluarkan kegelisahan yang terjadi, agar bisa terbiasa mengetik dengan panjang. segini saja aku sudah pegal. duh duh buyung....

keinginan tak sesuai dengan perbuatan, keinginan tak sesuai dengan perbuatan, keinginan tak sesuai dengan perbuatan, keinginan tak sesuai dengan perbuatan,keinginan tak sesuai dengan perbuatan,keinginan tak sesuai dengan perbuatan,keinginan tak sesuai dengan perbuatan, keinginan tak sesuai dengan perbuatan, maka, kita lihat saja nanti.

BOOM !

Komentar

Postingan Populer